Tampilkan postingan dengan label dosa dan pahala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosa dan pahala. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2016

Subhanallah...!! Inilah 9 Ciri-Ciri Istri Pengundang Rezeki Untuk Suaminya yang Wajib Suami Tau

Siramanislam.com_Pernikahan merupakan sunnah yang
diagungkan oleh Allah SWT. Selain mencari ridha-Nya, menikah juga menjadi salah satu jalan sebagai pembuka pintu rezeki. Allah SWT senantiasa mencukupkan rezeki pasangan yang sudah menikah, meski hanya salah satu dari keduanya yang bekerja.

 
sumber : siramanislam.com

Ternyata, tidak hanya dengan bekerja saja pasangan suami istri bisa mendatangkan rezeki. Namun dengan memperbaiki akhlak serta memperbanyak berbuat baik, maka dengan mudah rezeki akan sering datang kepada sebuah keluarga.


Jika biasanya suami bertanggungjawab mencari nafkah, maka istri pun memiliki tanggungjawab lain yang tidak kalah penting. Perilaku seorang istri ternyata akan berdampak terhadap sedikit atau banyaknya rezeki yang didapatkan suami. Dengan mengenali ciri istri berikut,  pasangan keluarga bisa memperbaiki rezeki yang mungkin saja tersendat selama ini.


1. Wanita yang Taat Pada Allah dan Rasul-Nya
Sebelum menikahi seorang wanita, pria haruslah mempertimbangkan ke empat faktor berikut yaitu karena (1) kecantikannya, (2) keturunannya, (3) hartanya dan (4) agamanya. Namun, dari keempat faktor tersebut faktor agama haruslah yang paling diutamakan. Akan sangat beruntung jika bisa mendapatkan keempat faktor tersebut.

Jika mencari wanita dengan faktor agama tentu ia merupakan wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya itu, wanita dengan ciri ini juga akan membawa rumah tangga menuju surga dan membawa ketentraman dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga tersebut akan bahagia, tentram, nyaman dan itulah rezeki yang sangat berharga.

Rumah tangga yang dipimpin oleh seorang imam yang sholeh dan didampingi istri sholehah tentu akan menjadikan rumah tangga tersebut mendapat berkah dari Allah SWT. Tidak cukup sampai di situ, pernikahan tersebut juga akan menghasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah, serta mendapatkan keridhaan serta rahmat dari Allah.

2. Wanita yang Taat Pada Suaminya
Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Itulah hadist Rasullah mengenai betapa utamanya menjadi istri yang taat kepada suaminya. Menjadi istri yang sholehah haruslah mentaati perintah suaminya selam perintah tersebut tidak bertentangan dengan agama.

Dengan ketaatan tersebut, maka akan membuat hati suami menjadi tenang dan damai. Itulah yang menyebabkan suami mudah dalam menjalankan kewajibannya mencari rezeki yang halal bagi keluarganya. Namun, jika seorang istri tetap ini berkarir di luar rumah haruslah terlebih dahulu mendapatkan izin dari suaminya. Selain itu, ia juga harus mampu menjaga diri dengan baik di tempat kerja tersebut.

“Laki-laki adalah pemimpin atas wanita karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya”. (Q.S. An Nisa : 34).

3. Wanita yang Melayani Suaminya dengan Baik
Menjadi seorang istri haruslah mengetahui apa saja tugas dan kewajibannya. Menjalankan tugas rumah tangga dan melayani suami dengan baik serta mendidik anak-anaknya merupakan tugas utama seorang istri. Istri yang sholehah selalu berusaha melayani suaminya dengan baik seperti menyiapkan sarapan, menyediakan keperluannya, memenuhi kebutuhan biologis
serta menjaga perasaan suami jangan sampai terlukan karena sikap istri.

Wanita yang memiliki sikap demikian akan menjadi istri kesayangan suami dan menjadi rekan yang baik dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah dan menarik hal-hal positif ke dalam rumah tangga tersebut. termasuk di dalamnya menarik rezeki yang halal bagi suaminya.

4. Wanita yang Berhias Hanya untuk Suaminya
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (H.R. Muslim). Wanita adalah makhluk yang suka berhias dan mempercantik diri. Akan tetapi, seorang wanita yang sholehah hanya berhiaas dan menampakkan perhiasannya tersebut untuk suaminya seorang. Ketika seorang istri selalu dipandang menyenangkan dan mengetahui cara membuat senang suaminya maka malaikat pun ikut berdoa agar Allah memudahkan rezeki datang kepadanya.

 5. Jika Ditinggal Menjaga Kehormatan dan Harta Suami
Ketika suami keluar untuk mecari nafkah, maka kewajiban seorang istri yang ditinggalkan adalah harus mampu menjaga kehormatannya. Selain itu, ia juga harus menjaga dirinya dari tamu yang tidak pantas, membatasi keluar rumah apabila urusan tersebut tidak begitu penting. Selain itu, wanita tersebut harus bisa menjaga harta yang ditinggalkan sang suami dan mempergunakannya pada hal-hal yang bermanfaat atas izin suaminya. Wanita yang mempunyai ciri tersebut akan membuat rezeki mudah masuk ke dalam rumahnya sebagai upah dari ketaatannya kepada Allah dan kesetiaannya terhadap suami.

6. Wanita Yang Senantiasa Meminta Ridha Suami Atasnya
Ciri istri pembawa rezeki selanjutnya adalah ia yang senantiasa meminta ridha suami atasnya. Wanita dengan ciri ini tahu bagaimana cara menyenangkan hati sang suami dan bisa menjaga sikap serta prilakunya agar tidak menyinggung serta melukai perasaan suaminya tersebut. Ia selalu berusaha agar suaminya tidak pernah marah terhadapnya. Ia tidak akan tidur dalam keadaan marah atau meninggalkan suami dalam keadaan marah sampai mendapatkan maafnya. Mengajak suami bercanda juga bisa membuat suami senang karena dapat menceriakan perkawinan.

Istri yang demikian itu merupakan itri yang menjadi penghuni surga, Hadist Rasulullah ” Maukah kalian kuberitahu isteri-isteri yang menjadi penghuni surga yaitu isteri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, dimana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ” Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (H.R.An Nasai). Isteri seperti ini adalah isteri yang dimudahkan rezekinya melalui tangan suaminya karena amalan dan kesetiaan pada suaminya,

7. Wanita yang Menerima Pemberian Suami Dengan Ikhlas
Ciri istri pembawa rezeki selanjutnya adalah ia yang tidak pernah mengeluh pemberian dari suaminya. Wanita ini selalu menerima dengan ikhlas serta menghargai apapun yang diberikan suami kepadanya. Ia selalu bersyukur atas apa yang diperoleh suaminya meskipun hanya sedikit. Wanita yang senantiasa bersyukur dan ikhlas ini rezekinya senantiasa akan bertambah baik kuantitas maupun keberkahan yang akan diberikan Allah kepadanya ataupun melalui suaminya.

8. Wanita yang Bisa Menjadi Partner Meraih Ridha Allah
Istri yang menjadikan rumah tangganya sebagai lahan ibadah dan pengabdian diri kepada Allah SWT bisa menjadi rekan diskusi yang berimbang bagi suaminya. Tidak hanya itu, ia juga bisa melakukan koreksi dan menyampaikannya dengan lembut kepada suaminya. Selain itu, wanita yang memiliki ciri ini juga bisa menjadi motivator suami untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Itulah yang menyebabkan munculnya kalimat “ di balik pria yang sukses ada wanita hebat di belakangnya”.

9. Wanita yang Tak Pernah Putus Doa Untuk Suaminya
Ciri wanita pembawa rezeki yang terakhir adalah wanita yang selalu menerima takdir Allah SWT namun tetap berusaha dengan mendoakan suami dan anak-anaknya  agar sukses di dunia dan akhirat. Rutinitas berdoa tidak pernah terputus dari wanita ini, menjadi penghias bibir setelah menjalankan ibadah sholat. Wanita seperti inilah yang akan mendatangkan rezeki kepada suaminya karena selalu melibatkan Allah pada setiap langkah suaminya lewat doa yang diucapkan setiap hari.

Itulah 9 ciri istri pembawa rezeki bagi suaminya. Maka beruntunglah lelaku yang mendapatkan istri dengan ciri-ciri tersebut. Akan tetapi, apabila belum mendapatkan istri yang demikian adalah kewajiban suami untuk mendidik istrinya agar selalu berada di jalan Allah SWT serta membawa rumah tangga tersebut ke surga-Nya.

Sumber : akhwatindonesia.net

Lakukanlah 7 Amalan Ini. Insya allah Dapat Menghapuskan Dosa Seumur Hidup Kita

Tumpukan dosa yang menggumpal bukan
berarti tak bisa dihapus. Beragam kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas mampu meleburnya. Selama dosa tersebut bukanlah dosa besar yang menyebabkan kekafiran. Sebab kekafiran hanya bisa diganti dengan kembali dalam pelukan Islam.

 

Lakukanlah 7 Amalan Ini. Insya allah Dapat Menghapuskan Dosa Seumur Hidup Kita


1. Taubat

Kesalahan bisa dilakukan siapa saja. Tak terkecuali ahli ibadah sekalipun. Karenanya, orang yang terbaik bukan mereka yang tak pernah terjerembab dalam kekeliruan. Tapi, mereka yang selalu menyadari kesalahannya, lalu bertaubat. Dan tidak menunda taubatnya walau sedetik pun.

“Langsung bertaubat dari dosa,” tutur Imam Ibnul Qayyim, “merupakan keharusan yang tak bisa ditunda-tunda. Jika taubat ditunda, ia akan memunculkan maksiat lain akibat penundaan itu.”

Begitu pentingnya taubat karena ia adalah gerbang segala ampunan. Ia adalah wujud pengakuan hamba atas dosanya, dan jembatan pengakuan Allah bagi ampunan-Nya. Taubatlah yang menjadi kunci kebaikan untuk menghapus dosa kesalahan seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman, “…Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Furqan: 70).

2. Sedekah

Setelah gerbang ampunan terbuka, ibadah berikutnya yang bisa melebur dosa adalah sedekah. Baik yang dilakukan dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Allah berfirman, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kamu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 271).

Rasulullah Saw bersabda, “…sedekah itu mematikan (melebur) kesalahan dan takwa itu membunuh kesalahan seperti air memadamkan api.” (H.r. Thabrani).

Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariah, pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, baik hukum maupun ketentuan-ketentuan umum lainnya. Hanya saja, jika infak cenderung berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas. Sedekah enyangkut juga hal yang bersifat non-materi. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah Saw menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk sedekah. Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan Muslim,

 


Rasulullah Saw menyebutkan bahwa tersenyum kepada saudara yang lain itu sedekah.

3. Jihad

Ibadah lainnya yang masih berkaitan langsung dengan harta dan pahalanya mampu melebur dosa adalah jihad. Jihad di jalan Allah yang dilakukan dengan ikhlas dapat melebur dosa. Baik yang dilakukan dengan harta maupun jiwa. “…(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan ke dalam surga…” (QS. ash-Shaff: 11-12).

Karenanya, para sahabat Rasulullah saw selalu berlomba menyambut seruan jihad. Kendati mereka sudah menginfakkan harta, tapi itu tak membuat mereka puas untuk tidak ikut berjuang di jalan Allah. Bagi mereka, syahid di jalan Allah adalah kunci utama untuk mendapatkan ampunan Allah.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mati syahid akan diampuni dosanya pada percikan darah yang pertama, dan akan dikawinkan dengan dua bidadari dan akan memberi syafaat tujuh puluh dari anggota keluarganya…,” (H.r. Thabrani).

4. Wudhu

Bagi mereka yang tidak sempat berjihad bukan berarti pintu melebur dosa tertutup. Ibadah sehari-hari yang kita lakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntutan Rasulullah saw, juga bisa menghapus dosa.

Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Sedangkan shalatnya, jalannya menuju masjid adalah amalan tambahan,” (H.r. Muslim dan Nasa’i).”

5. Shalat

Selain itu, shalat merupakan kaffarah (penebus) dosa dan kesalahan seorang hamba. Perumpamaan orang yang melakukan shalat lima waktu sehari semalam ibarat orang yang di depan rumahnya mengalir sungai dan ia mandi lima kali sehari. Tak akan ada kotoran yang tersisa. “Begitulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengan shalat itu Allah akan melebur kesalahan-kesalahan (hamba-Nya),” ujar Rasulullah saw seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi bahwa Rasulullah saw menegaskan, “Shalat lima waktu, shalat Jum’at menuju Jum’at berikutnya adalah pelebur dosa di antara mereka, selama dosa-dosa besar tidak dilanggar.”

6. Puasa

Ibadah puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridha Allah pun bisa melebur dosa. “Sesiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas (mencari pahala karena Allah) maka diampunilah dosanya yang sudah lewat.” (H.r. Bukhari Muslim).

Apalagi jika puasa Ramadhan diikuti dengan puasa Syawal enam hari setelahnya. “Sesiapa yang puasa Ramadhan dan mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan ibunya,” demikian sabda Rasulullah saw seperti yang diriwayatkan Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath-nya.

Puasa ayyamul bidh (tiga hari setiap pertengahan bulan hijriyah) juga bisa menjadi pelebur dosa. Dalam Mu’jam al-Kabir-nya Thabrani meriwayatkan, dari Maimunah binti Sa’ad bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dari setiap bulan tiga hari, siapa saja yang mampu melaksanakannya, maka (pahala) setiap harinya bisa melebur sepuluh kali kesalahan dan dia bersih dari dosa seperti air membersihkan pakaian.”

7. Haji

Kalau ibadah harian (seperti shalat), bulanan (seperti puasa sunnah), atau tahunan (seperti puasa Ramadhan) mampu melebur dosa, begitu juga dengan ibadah haji yang diwajibkan sekali seumur hidup bagi yang mampu.

Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang melaksanakan haji, lalu tidak berbicara kotor dan tidak fasik, dia akan kembali (diampuni) dari dosanya sebagai mana ia dilahirkan ibunya,” (H.r. Bukhari Muslim).

Begitulah kesempurnaan Islam dan keutamaan umat Nabi Muhammad. Hari-harinya penuh dengan pahala yang mampu melebur dosa kesalahannya.

Semoga dosa-dosa kita dihapus dan diampuni oleh-Nya. Aamiin.

Sumber : blog.setiabuku.com

Rabu, 09 Maret 2016

Subhanallah! Inilah Pahala Yang Akan Di Dapat Jika Berhubungan Suami Istri di Hari Jumat

Malam Jumat memang memiliki keutamaan
bagi pasutri yang hendak melakukan hubungan intim.


Akan tetapi, tidak selayaknya hal ini dijadikan olok-olok, ejekan, bahkan alasan untuk tidak melakukan hal baik lainnya seperti mengikuti kajian di masjid, dengan dalih melakukan "sunah Rasul di malam Jumat". 
Subhanallah! Inilah Keutamaan Berhubungan Suami Istri di Malam Jumat
Sumber: Ummi-online.com
Lebih-lebih jika dijadikan status sosial media, "Saya sudah melakukan sunah Rasul malam Jumat ini". Dengan maksud memposthukan telah melakukan hubungan intim dengan istrinya. Sungguh alangkah buruknya. 
Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid r.a, bahwa ia berada di majelis Rasulullah saw sementara kaum laki-laki dan wanita duduk di situ. 
Rasulullah berkata, “Barangkali seorang laki-laki menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama istrinya? Barangkali seorang wanita menceritakan hubungan intim yang dilakukannya bersama suaminya?” 
 
 Orang-orang diam saja. Aku berkata, “Demi Allah, benar wahai Rasulullah. Sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu demikian juga kaum pria.”
Rasulullah bersabda: 
“Jangan lakukan! sesungguhnya hal itu seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan lalu keduanya bersetubuh sementara orang-orang melihatnya,” (HR Ahmad, hasan). 
Memang benar ada anjuran Rasulullah untuk melakukan hubungan suami istri di malam Jumat atau hari Jumat sebelum shalat Jumat, akan tetapi masih banyak sunah Rasul di malam Jumat lainnya, sehingga rasanya tidak pantas jika sunah Rasul di malam Jumat hanya diidentikkan dengan hubungan intim suami istri saja. 
"Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad) 
Adapun apakah dilakukan malam Jum’at atau pagi Jum’at, secara khusus belum mendapatkan keterangan, hanya saja dalam hadits tersebut dikatakan yawm al jum’ah, yang berarti hari Jum’at, dan perhitungan hari dalam Islam itu sejak matahari terbenam. Sehingga baik “malam Jum’at” maupun “pagi Jum’at” itu masih terkategori “hari Jum’at”. 
Semoga kita dapat melaksanakan semua sunah-sunah Rasulullah di malam Jumat, tanpa menjadikannya bahan olok-olok alias ejekan yang mempersempit makna sunah Rasul itu sendiri.
Sumber: Ummi-online.com

Benarkah Berhubungan Suami-istri di Kamar Mandi Itu Di Larang Dalam Islam? Inilah Jawaban Islam

Siramanislam.com_Ada seorang teman yang memberikan
pertanyaan menggelitik mengenai bolehkah hubungan intim di kamar mandi? Karena hal yang sensitif ini jarang sekali mendapatkan pembahasan secara terbuka, padahal seseorang juga perlu mendapatkan kejelasan hukum agar apa yang dilakukannya itu tidak menyalahi kehalalan apalagi jika ternyata yang dilakukannya adalah makruh bahkan haram. Tentu hal ini  sangat penting diketahui oleh muslim yang telah menikah, saat ingin berhubungan intim di suatu tempat, semisal kamar mandi.


Bolehkah Berhubungan Suami-istri di Kamar Mandi? Inilah Jawaban Islam
Sumber: Galeriarsitektur.com
Mengapa hal ini dibahas, bukankah kamar mandi adalah tempat pribadi yang tertutup, dan bukankah suami istri adalah halal saat akan berhubungan intim di mana saja? Tentu saja ada hubungannya, karena akan berpengaruh pada beberapa hal salah satunya menyebut nama Allah di suatu tempat yang sebenarnya tidak diperbolehkan atau makruh untuk melakukannya.
Ada beberapa pembahasan mengenai hal ini yang akan lebih mudah jika dikelompokan dalam beberapa poin: 

1. Pasangan suami istri sesaat akan melakukan hubungan jima’  dianjurkan untuk berdoa terlebih dahulu, seperti yang dilakukan Rasulullah: 

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan  dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434) 

Analoginya, dikamar mandi terlarang (makruh) untuk berdoa, menyebut asma Allah juga berzikir, seperti hadist riwayat Muslim yang menyatakan Rasulullah tidak membalas salam dari seseorang saat ia sedang di dalam kamar mandi.

2. Imam Nawawi mengatakan jika hukumnya makruh untuk orang-orang yang buang hajat untuk berzikir mengucapkan Subhanallah, laa ilaaha illallah, tidak menjawab salam, berdoa dan menjawab doa orang yang bersin, juga menjawab Adzan. 

3. Jika terpaksa bersin di kamar mandi, hendaklah berdoa dalam hati saja, begitu pula saat berjima’ jika dilakukan di kamar mandi, maka hendaklah berdoa dalam hati. Hal ini  hukumnya makruh tanzih bukan haram dan yang melakukannya bukan kategori dosa, demikian imam Nawawi menambahkan. (lihat Syarh Shahih Muslim, 4:61) 

4. Sebaiknya berhubungan jangan dilakukan dalam kamar mandi, apalagi kamar mandi umum, karena disamping itu  bukan tempat ideal dan nyaman untuk ibadah seperti itu, hal ini juga berhubungan dengan tempat lalu lalang banyak orang, apalagi pintunya yang tidak bisa tertutup sempurna. 

5. Menjaga kerahasiaan hubungan intim dari pengamatan orang lain, anak-anak dan dari orang-orang yang bisa mengetahui jika dilakukan di suatu tempat yang bisa saja didatangi mereka.  Padahal hubungan intim adalah hal yang patut dirahasiakan. 

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1437). 

“sebarkan”, disini bukan hanya secara sengaja, namun juga karena kelalaian pelaku hubungan intim tersebut yang melakukan ditempat yang tidak aman dari pendengaran dan penglihatan orang lain. 

6. Ada pula yang menyebutkan (Fatwa Islam web) jika hukum menggauli istrinya dalam kamar mandi tidaklah terlarang, dan tak ada pula kafarah yang ditunaikan, hanya saja hal tersebut menyelisihi adab kesopanan, dan satu lagi masalah yang cukup krusial yakni membaca doa sebelum jima’ di kamar mandi makruh atau cenderung terlarang jika dilakukan secara lesan. 

7. Lakukan hubungan  di tempat yang semestinya (semisal kamar) yang tertutup rapat, yang lebih nyaman, tenang dan tidak ada rasa was-was jika ada yang mendekati tempat umum tersebut. Akan tetapi jika dalam keadaan terpaksa (oleh keadaan), sesuatu yang darurat dalam Islam, tentu dari yang Harampun bisa jadi halal begitu juga hukum makruh maka bisa beranjak jadi mubah. 

Demikian sahabat islam, semoga adab dalam Islam apapun bentuknya dapat dijalankan dengan mengikuti sunah Rasulullah. Seperti halnya berhubungan intim, semoga bisa dilakukan dengan lebih menyenangkan ditempat nyaman. 
(Ummi-online.com)

Senin, 07 Maret 2016

SUBHANALLAH...!!! Karena Doa IniLAH, Umat Nabi Muhammad Tidak Akan Diazab ALLAH SWT

Tahukah Anda apa itu pengertian azab dalam Islam? Azab merupakan siksaan yang dihadapi oleh seluruh makhluk Tuhan termasuk manusia karena kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Manusia memang tak luput dari kesalahan, karenanya umat Nabi Muhammad ini bahkan pernah layak mendapat azab.
Karena Doa Ini, Umat Nabi Muhammad Tidak Diazab
Sebagian besar dari kita pasti sudah tahu apa itu azab dalam Islam. Akan tetapi pernah juga karena doa ini, umat Nabi Muhammad tidak diazab, doa luar biasa apakah ini? Apakah dosa bersangkutan sulit dilakukan? Ulasan di bawah ini akan menjawab beberapa pertanyaan tersebut secara ringkas namun lengkap.
Di suatu kafilah dakwah dengan Sa’ad bin Abi, Nabi Muhammad SAW pernah melewati masjid yaitu Masjid Bani Muawiyah. Selanjutnya Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan menunaikan shalat dua rakaat. Setelah shalat sunnah Tahiyyatul Masjid tersebut berakhir, beliau memanjatkan kembali doa kepada Allah Yang Maha Esa. Ternyata doa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, isinya yaitu permintaan Nabi Muhammad SAW agar umatnya bisa betul-betul terbebas dari azab yang dikirimkan Allah Sang Pencipta. Lebih lengkapnya, Rasulullah SAW menyatakan tiga permintaan yang ternyata selanjutnya dua permohonan dikabulkan sementara satu lainnya ditolak. Pertama, Nabi Muhammad SAW memohon agar umat beliau tidak dibinasakan dengan cara tenggelam. Kedua, Nabi Muhammad SAW memohon pada Allah Ta’ala agar umat beliau tak dibinasakan dengan cara kelaparan di musim kemarau. Dua permintaan ini dikabulkan Allah, namun sampailah Nabi Muhammad SAW ke permohonan terakhir. Isinya meminta agar tak ada keganasan terjadi antara manusia. Ternyata permohonan ini ditolak oleh Allah Yang Maha Kuasa. 
Dengan berpegang pada definisi azab, kita mungkin sudah tahu bahwa Allah Yang Maha pengasih pernah berfirman tentang azab. Hanya Allah yang memiliki kuasa mengirim azab kepada manusia, azab datangnya bisa dari atas atau bahkan kaki kita. Allah juga bisa membaurkan kita ke suatu golongan dan membiarkan golongan bersangkutan bersikap ganas pada kita. Intinya, azab akan menunjukkan kebesaran Allah yang luar biasa, kita sebagai manusia sudah pasti tak bisa menolaknya tanpa cara yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Jadi, selalu hati-hatilah dalam berbicara mapun bersikap.
Keganasan manusia yang tak dihentikan oleh Allah ini ternyata banyak terjadi di negara penuh dengan konfilk. Kita sendiri pasti pernah melihatnya di hadapan kita, baik dari pang paling sederhana sampai paling mengerikan sekalipun. Rupanya, ada suatu bangsa yang dipercaya oleh Allah untuk menimpakan azab pada kaum kafir, bangsa ini antara lain palestina dan kaum mujahid yang tersebar di berbagai daerah. Perlu diperhatikan bahwa azabnya tetap berasal dari Allah, namun eksekusi dilakukan oleh bangsa tertentu ini.
Di kisah yang beredar, bangsa yang terkena oleh azab ini adalah Bangsa Zionis dan bangsa penjajah lainnya. Rupanya, kaum Muslimin yang senantiasa percaya pada Allah SWT ini selalu meraup kemenangan, apalagi terhadap bangsa yang tidak mengenal azab menurut Islam. Untung saja Nabi Muhammad SAW masih peduli terhadap mereka semua dan kasih sayangnya membantu mereka terselamatkan dari azab. Ingin senantiasa terbebas dari azab Allah? Pastikan kita sebagai umat Islam selalu menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ingatlah juga untuk menunaikan shalat sunnah Tahiyyatul Masjid yang diikuti dengan beberapa permintaan karena doa ini, umat Nabi Muhammad tidak diazab.
 
sumber : kumpulanmisteri.com

Minggu, 06 Maret 2016

Inilah Ayat Al-quran, Jika Dibaca Ketika Dalam Kesulitan, Maka Allah Akan Kirim Malaikat Untuk Membantu

Tersebutlah seorang laki-laki yang menempuh perjalanan dari Damaskus menuju Zabadani. Di tengah jalan, ada laki-laki lain yang berniat menyewa keledainya. Meski tak dikenal, ia mengizinkan laki-laki asing untuk menyewa keledainya. Keduanya berjalan menuju satu lokasi, beriringan.
 


“Ayo lewat arah sini,” ajak laki-laki penyewa keledai.
“Tidak, aku belum pernah lewat jalan itu. Mari tempuh jalan yang lain.” jawab si laki-laki. Mengelak.


“Tenang saja,” rayu laki-laki penyewa keledai, “aku yang akan menjadi penujuk jalan.”

Keduanya pun berunding hingga laki-laki pertama mengikuti saran laki-laki yang menyewa keledainya.

Tak lama setelah itu, keduanya sampai di sebuah tempat yang sukar dilalui. Medannya terjal dan curam. Laki-laki pemilik keledai melihat ada beberapa mayat tergeletak di sana.

Tak dinyana, laki-laki yang menyewa keledainya turun sembari menodongkan sebilah pedang. “Turunlah segera! Aku akan membunuhmu!”

Laki-laki pemilik keledai pun berlari sekuat kemampuannya. Ia berusaha menghindar, tapi sia-sia karena sukarnya medan yang harus dilalui.

“Ambil saja keledai kepunyaanku.
Bebaskan aku.” ujar laki-laki pemilik keledai. Nyawanya terancam.

“Pasti. Aku tidak akan menyia-nyiakan keledaimu. Tapi, aku juga ingin membunuhmu.” Gertak si laki-laki. Bengis.

Tak henti-hentinya, laki-laki pemilik keledai ini menyampaikan nasihat. Ia juga membacakan ancaman-ancaman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an dan hadits Nabi tentang dosa membunuh dan melakukan kejahatan secara umum.

Sayangnya, laki-laki itu tak menggubris. Nafsu membunuhnya sudah bulat. Tak bisa dicegah. Mustahil diurungkan.

“Jika demikian,” ujar laki-laki pemilik keledai, “izinkanlah saya mendirikan shalat. dua rakaat saja.”

“Baiklah,” bentak laki-laki jahat, “tapi jangan lama-lama!”

Qadarullah, semua hafalan laki-laki pemilik keledai hilang. Saat sibuk mengingat-ingat, laki-laki tak bernurani itu membentak dan menyuruhnya bergegas.

Akhirnya, teringatlah satu ayat oleh laki-laki pemilik keledai ini. Ia membaca firman Allah Ta’ala dalam surat an-Naml [27] ayat 62,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”

“Seketika itu juga,” tutur si laki-laki, “dari mulut lembah muncul seorang pengendara kuda membawa tombak. Dia melemparkan tombak tepat di dada laki-laki jahat itu hingga langsung tersungkur tanpa bernyawa.”

“Siapakah engkau?” tanya laki-laki pemilik keledai penuh heran sekaligus haru terima kasih.

“Akulah hamba-Nya Dia yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.”

Kisah menakjubkan ini juga dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.

Wallahu a’lam.

Sumber : kisahikmah.com

Sabtu, 05 Maret 2016

Beginilah Hukum Islam Menjelaskan Menikahi Wanita Penzina dan Tidak Perawan? silahkan Dibaca

Hukum Menikahi Wanita Tidak Perawan Karena Zina. Ketika malam pertama perkawinan anda menjumpai istri tidak perawan, apa respons anda? Marah dan kecewa itu pasti. Tapi tunggu dulu, adakalanya ketidakperawanan disebabkan oleh ketidaksengajaan seperti jatuh, olahraga, diperkosa. Tapi banyak juga disebabkan karena pernah berbuat zina dengan pacar atau siapapun. Bagaimana hukum pernikahan wanita pezina, apakah sah? Perlukah diulangi?



Ada dua kategori wanita yang tidak perawan, yaitu karena berstatus janda atau pernah berzina. Tapi yang kita bahas adalah makna yang kedua.
Apakah hukum dalam agama Islam menikah dengan wanita yang pernah berzina atau sudah tidak perawan lagi akibat pergaulan bebas?

Sebagai orang beriman, jangan menganggap ringan dosa dari perbuatan zina. Jaga diri dan keluarga agar tidak jatuh kepada dosa tersebut. Dan, bagi mereka yang pernah jatuh dan khilaf melakukan dosa besar itu, segeralah bertaubat kepada Allah. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menikah dengan pezina sebelum bertaubat.


Jumhur ulama dari Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafii berpendapat, boleh menikah dengan pezina sebelum dia bertaubat, tapi hukumnya makruh. Sedangkan Mazhab Hambali berpendapat, haram hukumnya menikahi pezina sebelum ia bertobat.

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin." (QS an-Nur [24]: 3). Jumhur ulama mengatakan, yang dimaksud kata nikah dalam ayat di atas adalah zina itu sendiri.

Ini berarti, seorang pezina tidak akan berzina kecuali dengan pezina seperti dirinya atau orang musyrik. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, ayat ini merupakan kabar dari Allah, seorang pezina tidak akan berzina kecuali dengan pezina atau orang musyrik. Dalam artian, tidak akan ada yang mau mengikuti kemauannya untuk berzina kecuali pezina.

Ada juga yang berpendapat, ayat ini mansukh atau dihapus hukumnya oleh ayat 32 Surah an-Nur. ‘’Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu.’’ (QS an-Nur [24]: 32). Ayat ini tidak membedakan orang yang sendirian itu, apakah sudah pernah berzina atau belum. Sehingga orang yang pernah berzina, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk golongan orang  sendirian yang diperintahkan untuk dinikahkan.

Tetapi perlu dipahami, larangan untuk menikahi pezina itu adalah jika zinanya itu diketahui umum atau orang yang ingin menikah dengannya itu tahu ia pernah berzina dan belum bertaubat. Sedangkan jika orang yang menikah itu tidak tahu orang yang ingin dinikahinya pernah berzina, nikahnya sah.

Selama orang yang menikah dengan orang yang pernah berzina itu, baik laki-laki maupun perempuan, tidak mengetahui pasangannya itu pernah berzina maka nikahnya sah. Begitu juga, jika diketahui orang yang pernah berzina itu telah bertobat dan kembali ke jalan Allah, boleh dan sah menikah dengannya.

Sedangkan bagi laki-laki dan perempuan yang pernah berzina, maka setelah bertaubat hendaklah ia menutupi aib yang pernah dia lakukan dan tidak memberitahukannya kepada pasangannya karena Allah telah menutupi aibnya. Adapun bagi perantara, jika ia mengetahui orang yang pernah berzina itu sudah bertaubat, hendaknya ia tidak memberitahukan kepada pasangannya.

Kami memohon taufiq bagi semuanya. Demikian Wallahu A’lam.

Sumber: 
- fatihsyuhud.net
- republika.co.id